Subussalam – Polisi Aceh Sedot untuk menanggulangi bencana banjir yang melanda wilayah tersebut. Salah satunya adalah tindakan yang dilakukan oleh tim polisi di daerah Aceh Tengah, yang dengan cepat dan penuh pengabdian melakukan evakuasi korban banjir, termasuk mengangkut mayat menggunakan perahu. Dalam momen darurat tersebut, petugas kepolisian bahkan terpaksa “menyedot” bahan bakar dari sepeda motor mereka untuk mengoperasikan perahu yang digunakan dalam proses evakuasi.
Kondisi banjir yang melanda Aceh Tengah dalam beberapa hari terakhir telah menyebabkan kerusakan parah di banyak titik. Puluhan rumah terendam, jembatan dan jalan terputus, serta ratusan warga terisolasi di lokasi-lokasi tertentu. Banjir ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari, memicu meluapnya sungai-sungai besar dan menenggelamkan banyak kawasan pemukiman.
Namun, di tengah bencana ini, pihak kepolisian Aceh tidak tinggal diam. Mereka menunjukkan kepedulian dan keberanian dalam upaya penyelamatan. Salah satu momen paling mengharukan terjadi ketika tim polisi yang sedang bertugas melakukan evakuasi korban banjir menggunakan perahu kecil. Ketika bahan bakar sepeda motor yang mereka bawa habis, para petugas tak ragu untuk menggunakan bensin dari tangki motor mereka sendiri agar perahu bisa terus beroperasi.
Polisi Aceh Sedot Tindakan Tak Kenal Pamrih

Baca Juga : PMI Banda Aceh Minta Bantuan Udara Selamatkan Warga dan Atlet PORA di Aceh Tengah
Polisi Aceh Sedot Kejadian tersebut berlangsung pada saat hujan deras yang melanda Aceh Tengah membuat banyak warga terjebak di rumah-rumah yang terendam air setinggi dua hingga tiga meter. Para petugas yang tengah melakukan patroli di daerah tersebut menerima laporan adanya korban yang ditemukan di salah satu desa yang terisolasi.
Melihat kondisi yang semakin buruk, petugas polisi yang dipimpin oleh Kapolres setempat memutuskan untuk menggunakan perahu sebagai alat evakuasi. Namun, dalam perjalanan menuju lokasi, mereka mendapati bahwa bahan bakar yang tersedia di perahu hampir habis. Tidak ingin menyerah begitu saja, petugas yang juga menggunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi akhirnya memutuskan untuk “menyedot” bahan bakar dari motor mereka dan memasukkannya ke dalam tangki perahu.
Kapolres Aceh Tengah, AKBP Rudianto, menjelaskan bahwa tindakan ini dilakukan demi keselamatan warga yang membutuhkan bantuan. “Kondisi ini sangat mendesak, dan kami tidak ingin kehilangan waktu. Kami tahu bahwa perahu adalah satu-satunya cara untuk mencapai lokasi yang terisolasi dan mengevakuasi korban. Jadi, kami harus pastikan perahu tetap bisa bergerak,” ujar Rudianto.
Evakuasi Korban Mayat yang Terjebak
Di antara evakuasi yang dilakukan, petugas polisi berhasil menemukan mayat seorang warga yang sudah beberapa hari terendam banjir di desanya. Korban tersebut diduga meninggal dunia akibat terjebak di rumahnya yang tenggelam. Kondisi jenazah yang ditemukan cukup mengenaskan, namun berkat usaha cepat dari tim evakuasi, jenazah berhasil diangkut dan dibawa ke rumah sakit untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Proses evakuasi mayat ini menjadi momen emosional bagi seluruh tim yang terlibat. “Kami tidak hanya mengevakuasi warga yang hidup, tetapi juga memberikan penghormatan terakhir kepada mereka yang telah meninggal akibat bencana ini. Kami merasa ini adalah tugas kami untuk memastikan semua warga, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, mendapatkan bantuan dan penghormatan yang layak,” kata salah seorang petugas yang terlibat dalam evakuasi tersebut.
Tantangan Evakuasi di Tengah Banjir
Proses evakuasi selama bencana banjir di Aceh Tengah menghadapi berbagai tantangan besar. Selain kondisi cuaca yang tidak menentu, akses yang terputus, dan medan yang sulit dijangkau, tim evakuasi juga harus berhadapan dengan potensi bahaya seperti longsor, arus deras, serta kerusakan infrastruktur yang mempersulit perjalanan.
Namun, semangat dan dedikasi para petugas kepolisian Aceh tetap tidak pudar. Berbekal peralatan seadanya dan dengan keberanian yang luar biasa, mereka bekerja keras untuk membantu warga yang terdampak banjir. “Kami tahu bahwa ini adalah tugas yang sangat berat, namun kami semua terikat pada satu tujuan: menyelamatkan jiwa manusia dan memberikan bantuan kepada sesama,” ungkap Kapolres Rudianto.
Masyarakat Apresiasi Keberanian Polisi
Aksi heroik polisi ini mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat. Warga yang melihat langsung upaya keras para petugas untuk menyelamatkan mereka, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, merasa terharu dan berterima kasih.
“Petugas polisi ini benar-benar luar biasa. Mereka tidak hanya menjalankan tugasnya sebagai aparat keamanan, tetapi juga menunjukkan sisi kemanusiaannya yang sangat besar. Mereka bekerja tanpa mengenal lelah, bahkan dengan menggunakan motor mereka untuk menolong kami,” kata salah seorang warga yang selamat dari banjir.
Harapan Pemulihan
Setelah lebih dari satu minggu banjir melanda, pemulihan infrastruktur di Aceh Tengah kini mulai menjadi prioritas utama. Pemerintah daerah setempat bersama dengan tim SAR, TNI, dan organisasi kemanusiaan lainnya terus bekerja untuk memperbaiki jalan-jalan yang rusak dan membuka kembali akses yang terputus. Sementara itu, upaya penyelamatan dan pemindahan warga yang terdampak banjir masih terus dilakukan dengan menggunakan perahu dan kendaraan 4×4.
“Kami akan terus bekerja keras sampai semua warga yang terdampak dapat kembali ke rumah mereka dan kehidupan dapat kembali normal.”
Kesimpulan
