,

Ekosistem Sungai Lae Batu-batu Kota Subulussalam dalam Ancaman Serius dan Picu Risiko Stunting

oleh -1385 Dilihat
oleh

Ekosistem Sungai Lae Batu-batu, salah satu sungai terbesar dan vital di Kota Subulussalam, Aceh, kini berada di ujung tanduk. Dalam beberapa waktu terakhir, fenomena kematian ikan secara massal terus terjadi, memicu kekhawatiran akan terancamnya kelestarian hayati sungai serta keberlangsungan hidup warga yang bergantung pada aliran sungai tersebut.

Sungai Lae Batu-batu selama ini menjadi tulang punggung kehidupan bagi warga di sepanjang daerah aliran sungai (DAS).

Pemerhati Lingkungan Kota Subulussalam, Nukman Suriadi Angkat.
Ekosistem Sungai Lae Batu-batu, salah satu sumber kehidupan masyarakat Kota Subulussalam, kini berada dalam ancaman serius akibat pencemaran dan kerusakan lingkungan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu keseimbangan alam, tetapi juga meningkatkan risiko stunting pada anak-anak di sekitar bantaran sungai.

Kondisi Sungai yang Memprihatinkan
Sungai Lae Batu-batu, yang seharusnya menjadi sumber air bersih dan kehidupan, kini tercemar oleh berbagai aktivitas manusia, seperti:
Pembuangan limbah domestik langsung ke sungai tanpa pengolahan.
Sampah plastik dan limbah rumah tangga yang menumpuk di sepanjang aliran sungai.
Aktivitas pertanian dan industri yang menggunakan bahan kimia berbahaya, mencemari air dan biota sungai.

Baca Juga : KPA Subulussalam dan Tokoh Masyarakat Tuntut Mendagri Kembalikan 4 Pulau ke Aceh

Ekosistem Sungai Lae Batu-batu Kota Subulussalam dalam Ancaman Serius dan Picu Risiko Stunting
Ekosistem Sungai Lae Batu-batu Kota Subulussalam dalam Ancaman Serius dan Picu Risiko Stunting

Dampaknya, kualitas air sungai menurun drastis, mengandung bakteri berbahaya seperti E. coli dan logam berat yang mengancam kesehatan masyarakat, terutama balita.
Kaitan antara Kerusakan Sungai dan Risiko Stunting
Stunting (gangguan pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi kronis) di Subulussalam diduga kuat terkait dengan kondisi Sungai Lae Batu-batu. Beberapa fakta yang ditemukan:

Sumber Air Tercemar – Masyarakat menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk mandi, mencuci, dan bahkan konsumsi setelah dimasak. Air yang tercemar dapat menyebabkan diare dan infeksi cacing, yang menghambat penyerapan nutrisi pada anak.
Ikan sebagai Sumber Protein Terkontaminasi – Biota sungai seperti ikan yang dikonsumsi warga terpapar logam berat, mengurangi nilai gizi dan berpotensi menyebabkan keracunan.

Sanitasi Buruk – Kurangnya akses MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang layak memperparah penyebaran penyakit berbasis lingkungan.
Respons Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah Kota Subulussalam telah menyadari masalah ini dan berupaya melakukan beberapa langkah, seperti:
Program penyuluhan kesehatan lingkungan untuk mengurangi kebiasaan buang sampah dan limbah ke sungai.
Pembangunan sarana sanitasi dasar di daerah rawan stunting.
Pengawasan ketat terhadap industri yang berpotensi mencemari sungai.

Namun, upaya ini dinilai belum cukup tanpa partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai.
Solusi Jangka Panjang
Untuk mengatasi ancaman ekosistem sungai dan stunting, diperlukan langkah terintegrasi, seperti:
✔ Rehabilitasi sungai melalui penanaman vegetasi tepian dan pembuatan tempat pengolahan sampah terpadu.
✔ Penyediaan akses air bersih melalui program sumur bor atau penyaringan air sungai.
✔ Peningkatan gizi anak dengan program posyandu dan edukasi pola makan sehat.
✔ Penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran sungai.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.